BI Solo: Kasus Upal Boyolali Jadi Temuan Terbesar di Soloraya

Kasus uang palsu atau upal yang diungkap Polres Boyolali dengan sembilan tersangka pada 12 September lalu merupakan temuan terbesar.

 Tumpukan barang bukti kasus pembuatan dan pengedaran uang palsu diperlihatkan saat penyampaian pengungkapan kasus tersebut di Kantor Polres Boyolali, Jumat (24/9/2021). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)

SOLOPOS.COM - Tumpukan barang bukti kasus pembuatan dan pengedaran uang palsu diperlihatkan saat penyampaian pengungkapan kasus tersebut di Kantor Polres Boyolali, Jumat (24/9/2021). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)

Solopos.com, BOYOLALI — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo menyebut temuan kasus uang palsu atau upal di Boyolali merupakan pengungkapan terbesar di Soloraya bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data KPw BI Solo, pada 2019 di Soloraya ditemukan 4.322 lembar upal. Kemudian pada 2020 terdapat 3.756 lembar upal. Pada 2021 ada sekitar 1.802 lembar.

“Itu yang terlaporkan di perbankan. Jadi ada nasabah mendapat uang palsu kemudian dilaporkan ke bank, itu jumlahnya sekian. Kalau ditambah dengan temuan di kasus ini [Boyolali] jadi totalnya 10.318 lembar,” kata Kepala Unit pengolahan Uang Rupiah KPw BI Solo, Purwanto, kepada wartawan, Jumat (24/9/2021).

Sebagaimana diinformasikan, Polres Boyolali mengungkap kasus pembuatan dan pengedaran upal dengan barang bukti sebanyak 8.516 lembar. Sedangkan nominal totalnya mencapai Rp49.030.000.

Baca Juga: Polres Boyolali Tangani Kasus Peredaran Uang Palsu Senilai Rp500 Juta

Polisi menangkap sembilan tersangka terkait kasus tersebut pada Minggu (12/9/2021) lalu. Mereka yakni DS, 39, warga Wates, Desa/Kecamatan Mojosongo, Boyolali; MF, 41, warga Ciseureuh, Kecamatan Pegol, Kota Bandung.

Kemudian CA, 37, warga Cepu, Blora; AB, 46, warga Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, DIY; EDH, 53, warga Margorejo, Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Selanjutnya HS, 25, warga Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya; ABW, 46, warga Prayungan, Lengkong, Nganjuk.

Persentase Kemiripan

AS, 49, warga Kertajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya, dan terakhir, SD, 34, warga Karanggebang, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Ketua Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) KPw BI Solo, Gunawan Purbowo, mengatakan belum bisa memastikan persentase kemiripan upal dalam kasus di Boyolali itu dengan uang asli.

Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hal itu secara pasti. Namun, ia mengatakan jika dibandingkan temuan upal pada kasus di Klaten tahun lalu, kualitas upal dari kasus terbaru ini lebih tinggi.

Baca Juga: Polres Boyolali Bekuk 9 Tersangka Kasus Pembuatan dan Peredaran Upal

“Dibandingkan kasus yang Klaten, ini lebih tinggi tingkatannya. Tapi kalau dibandingkan uang asli, sebenarnya masih jauh [di bawah],” katanya, Jumat (24/9/2021).

Menurutnya, jika dilihat sepintas, upal yang dibuat di Boyolali terlihat mirip dengan uang asli. Namun ketika dilihat lebih teliti, akan terlihat perbedaannya dengan uang asli.

“Paling umum bisa dikenali dengan cara dilihat, diraba diterawang. Kalau dilihat lebih teliti, itu beda dengan uang asli. Diraba, dari kekasarannya juga tidak seperti uang asli. Diterawang [tampilannya] juga tidak serapi uang asli,” lanjutnya.


Berita Terkait

Berita Terkini

Ratusan Penerima PKH di Klaten Ternyata Punya Mobil hingga Rumah Mewah

Sedikitnya 250 keluarga penerima manfaat (KPM) di Klaten diusulkan segera dinonaktifkan dari program keluarga harapan (PKH).

Asale Pusat Olahraga Terpadu di Sukoharjo Jadi Gedung Budi Sasono

Pemkab Sukoharjo berencana membangun gedung pertemuan Budi Sasono berkapasitas sekitar 2.500 orang.

Pesan Bupati Yuni ke Warga Sragen: Jangan Abai Prokes!

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, tak henti-hentinya mengingatkan warga agar tak abai terhadap protokol kesehatan.

Rajin Patroli Prokes, Tim Gabungan Weru Sukoharjo: Warga Jangan Lengah!

Tim gabungan di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo, tetap rajin melakukan patroli penerapan protokol kesehatan.

Akhir Pekan, Arus Lalu Lintas di Solo Padat Merayap

Arus lalu lintas di sejumlah lokasi di Kota Solo terpantau padat merayap saat libur akhir pekan.

Sopir Minibus Rombongan Guru SD Demak yang Ngglondor Tak Tahu Medan

Sopir minibus yang ngglondir di tanjakan Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar, hanya mengandalkan Google Maps.

Minibus yang Terguling di Karanganyar Ternyata Bawa Rombongan Guru SD

Minibus yang ngglondor di Matesih, Karanganyar, mengangkut rombongan guru SD asal Demak yang beranggotakan 14 orang.

Sepakat dengan Istri, Bupati Wonogiri Hanya Ingin Punya Satu Anak

Saat meluncurkan buku karya anaknya, Bupati Wnogiri, Joko Sutopo, mengaku telah bersepakat dengan istrinya hanya ingin memiliki satu anak.

Penemuan Arca di Candi Sirih Sukoharjo, Tim Gali Tanah hingga 1 Meter

Dua arca ditemukan oleh tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta di Candi Sirih Sukoharjo di kedalaman sekitar 1 meter.

Ternyata Waldjinah Tak Suka dan Enggan Menyanyikan Lagu Ini

Seumur hidup Waldjinah hanya sekali menyanyikan lagu berbahasa asing.

Akan Berusia 76 Tahun, Ini Keinginan Terpendam Ratu Keroncong Solo

Waldjinah akan genap berusia 76 tahun pada 7 November 2021 mendatang. Oleh anaknya Waldjinah tak boleh lagi bernyanyi untuk komersial.

Wow! 2 Arca Ditemukan di Candi Sirih Sukoharjo

Tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan arca wisnu dan arca agastya saat proses eksvakasi lanjutan di situs bersejarah Candi Sirih Sukoharjo.

Pamsimas Gagal, Warga Tiga Desa di Sragen Alami Krisis Air Bersih

Tiga Desa di tiga Kecamatan di Sragen alami krisis air bersih karena kekeringan. Mereka mengandalkan bantuan air bersih dari Pemkab Sragen untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

Rektor ISI Surakarta Mewisuda 278 Mahasiswa pada Gelombang II 2021

Rektor ISI Surakarta, I Nyoman Sukerna, mewisuda 278 orang mahasiswa lulusan program sarjana, magister, dan doktor pada Jumat (15/10/2021).

Minibus Angkut 8 Penumpang Asal Demak Ngglondor di Matesih

Tak kuat menanjak di jalur menuju Candi Sukuh, minibus yang mengangkut rombongan dari Demak ngglondor dan terguling.

Kisah Beras Delanggu yang Kini Tinggal Nama

Beras Delanggu kini tinggal nama brand. Tidak ada petani di Delanggu, Klaten, yang menanam beras raja lele yang dikenal pulen dan enak.