Harus Teliti! Ini Beda Upal Buatan Warga Boyolali dengan Uang Asli dari BI

Kualitas uang palsu yang dibuat warga Boyolali jauh di bawah uang asli dan bisa dikenali dengan cara dilihat, diraba, dan diterawang.

 Tumpukan barang bukti kasus pembuatan dan pengedaran uang palsu diperlihatkan saat penyampaian pengungkapan kasus tersebut di Kantor Polres Boyolali, Jumat (24/9/2021). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)

SOLOPOS.COM - Tumpukan barang bukti kasus pembuatan dan pengedaran uang palsu diperlihatkan saat penyampaian pengungkapan kasus tersebut di Kantor Polres Boyolali, Jumat (24/9/2021). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)

Solopos.com, BOYOLALI — Uang palsu atau upal buatan warga Mojosongo, Boyolali, yang terungkap pada pertengahan September lalu disebut memiliki kualitas lebih tinggi dibanding temuan upal di Klaten pada tahun lalu.

Kendati begitu, jika dibandingkan dengan uang asli buatan Bank Indonesia (BI), uang palsu itu jelas berbeda dan masih jauh di bawah uang asli. Hal itu diungkapkan Ketua Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) KPw BI Solo, Gunawan Purbowo, kepada wartawan, Jumat (24/9/2021).

Gunawan mengatakan belum bisa memastikan persentase kemiripan uang palsu dalam kasus di Boyolali itu dengan uang asli. Hal itu memerlukan penelitian lebih lanjut. Jika dilihat sepintas, uang palsu di Boyolali terlihat mirip dengan uang asli.

Namun ketika dilihat lebih teliti, akan terlihat perbedaannya. “Paling umum bisa dikenali dengan cara dilihat, diraba diterawang. Kalau dilihat lebih teliti, itu beda dengan uang asli. Diraba, dari kekasarannya juga tidak seperti uang asli. Diterawang [tampilannya] juga tidak serapi uang asli,” lanjutnya.

Baca Juga: Pengungkapan Kasus Upal Rp49 Juta di Boyolali Bermula dari Laporan Warga, Begini Kronologinya

Kepala Unit pengolahan Uang Rupiah KPw BI Solo, Purwanto, menambahkan dari segi pewarnaan, upal di Boyolali terlihat lebih terang dibandingkan uang asli. Kertas yang digunakan juga berbeda dengan uang asli. “Dari segi warna, upal pecahan Rp100.000 lebih cerah. Bisa dilihat, apalagi jika disandingkan dengan uang asli,” jelasnya.

Dari Segi Bahannya

Sementara dari dari bahannya juga dilihat dengan sinar ultraviolet kualitas kertas uang palsu di Boyolali memantulkan sinar. Uang kertas yang asli bahannya tidak memantulkan sinar.

Purwanto melanjutkan uang asli ketika diraba, ada bagian yang dicetak dengan cetakan timbul. Tapi pada upal di Boyolali itu tidak ada. Kemudian pada uang asli ada tanda air kalau diterawang.

“Di sini [upal] ada tapi belum sempurna. Memang cetakan ini kualitasnya lebih bagus sedikit dibandingkan temuan di Klaten. Tapi kalau dibandingkan dengan uang asli masih jauh,” jelasnya.

Baca Juga: BI Solo: Kasus Upal Boyolali Jadi Temuan Terbesar di Soloraya

Berdasarkan data dari KPw BI Solo, temuan uang palsu di Boyolali merupakan temuan pertama tahun ini. Jumlah temuannya paling besar jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2019, di wilayah Soloraya ditemukan 4.322 lembar upal. Kemudian pada 2020 terdapat temuan 3.756 lembar upal. Pada 2021 ada temuan sekitar 1.802 lembar.

Sembilan Tersangka

“Itu yang terlaporkan di perbankan. Jadi ada nasabah mendapat uang palsu kemudian dilaporkan ke bank, itu jumlahnya sekian. Kalau ditambah dengan temuan di kasus ini jadi 10.318 lembar,” kata dia.

Seperti diberitakan, Polres Boyolali mengungkap kasus pembuatan dan pengedaran uang palsu dan menangkap sembilan tersangka pada Minggu (12/9/2021) lalu. Barang bukti upal yang ditemukan adalah 8.516 lembar upal dengan nilai total Rp49.030.000.

Baca Juga: Polres Boyolali Bekuk 9 Tersangka Kasus Pembuatan dan Peredaran Upal

Sembilan tersangka itu yakni DS, 39, warga Wates, Desa/Kecamatan Mojosongo, Boyolali; MF, 41, warga Ciseureuh, Kecamatan Pegol, Kota Bandung.

Kemudian CA, 37, warga Cepu, Blora; AB, 46, warga Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, DIY; EDH, 53, warga Margorejo, Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Selanjutnya HS, 25, warga Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya; ABW, 46, warga Prayungan, Lengkong, Nganjuk.

AS, 49, warga Kertajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya, dan terakhir, SD, 34, warga Karanggebang, Kecamatan Jetis, Ponorogo.


Berita Terkait

Berita Terkini

Sering Ditagih Pinjol Ilegal, Bupati Wonogiri: Kurang Ajar Betul!

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, ternyata juga sering ditagih nomor tak dikenal yang diduga kuat operator layanan pinjaman online (pinjol) ilegal.

Ratusan Penerima PKH di Klaten Ternyata Punya Mobil hingga Rumah Mewah

Sedikitnya 250 keluarga penerima manfaat (KPM) di Klaten diusulkan segera dinonaktifkan dari program keluarga harapan (PKH).

Asale Pusat Olahraga Terpadu di Sukoharjo Jadi Gedung Budi Sasono

Pemkab Sukoharjo berencana membangun gedung pertemuan Budi Sasono berkapasitas sekitar 2.500 orang.

Pesan Bupati Yuni ke Warga Sragen: Jangan Abai Prokes!

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, tak henti-hentinya mengingatkan warga agar tak abai terhadap protokol kesehatan.

Rajin Patroli Prokes, Tim Gabungan Weru Sukoharjo: Warga Jangan Lengah!

Tim gabungan di Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo, tetap rajin melakukan patroli penerapan protokol kesehatan.

Akhir Pekan, Arus Lalu Lintas di Solo Padat Merayap

Arus lalu lintas di sejumlah lokasi di Kota Solo terpantau padat merayap saat libur akhir pekan.

Sopir Minibus Rombongan Guru SD Demak yang Ngglondor Tak Tahu Medan

Sopir minibus yang ngglondir di tanjakan Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar, hanya mengandalkan Google Maps.

Minibus yang Terguling di Karanganyar Ternyata Bawa Rombongan Guru SD

Minibus yang ngglondor di Matesih, Karanganyar, mengangkut rombongan guru SD asal Demak yang beranggotakan 14 orang.

Sepakat dengan Istri, Bupati Wonogiri Hanya Ingin Punya Satu Anak

Saat meluncurkan buku karya anaknya, Bupati Wnogiri, Joko Sutopo, mengaku telah bersepakat dengan istrinya hanya ingin memiliki satu anak.

Penemuan Arca di Candi Sirih Sukoharjo, Tim Gali Tanah hingga 1 Meter

Dua arca ditemukan oleh tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta di Candi Sirih Sukoharjo di kedalaman sekitar 1 meter.

Ternyata Waldjinah Tak Suka dan Enggan Menyanyikan Lagu Ini

Seumur hidup Waldjinah hanya sekali menyanyikan lagu berbahasa asing.

Akan Berusia 76 Tahun, Ini Keinginan Terpendam Ratu Keroncong Solo

Waldjinah akan genap berusia 76 tahun pada 7 November 2021 mendatang. Oleh anaknya Waldjinah tak boleh lagi bernyanyi untuk komersial.

Wow! 2 Arca Ditemukan di Candi Sirih Sukoharjo

Tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan arca wisnu dan arca agastya saat proses eksvakasi lanjutan di situs bersejarah Candi Sirih Sukoharjo.

Pamsimas Gagal, Warga Tiga Desa di Sragen Alami Krisis Air Bersih

Tiga Desa di tiga Kecamatan di Sragen alami krisis air bersih karena kekeringan. Mereka mengandalkan bantuan air bersih dari Pemkab Sragen untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

Rektor ISI Surakarta Mewisuda 278 Mahasiswa pada Gelombang II 2021

Rektor ISI Surakarta, I Nyoman Sukerna, mewisuda 278 orang mahasiswa lulusan program sarjana, magister, dan doktor pada Jumat (15/10/2021).