Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

 Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Sholahuddin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Seorang teman bercerita. Di dalam sebuah grup Whatsapp warga kampung yang dia ikuti, ada anggota grup yang “unik”. Dia rajin menyebar hoaks tentang pandemi Covid-19. Setiap saat menggelontori grup dengan kabar-kabar tak jelas. Anggota grup lain telah mengingatkan, tapi dia nekat.

Kata teman saya, warga tersebut termasuk orang yang tidak percaya adanya Covid-19. Berbagai informasi yang sejalan dengan keyakinanya dia sebarkan dalam berbagai narasi. Narasinya seperti apa? Saya yakin pembaca lebih paham dari saya.

Namun, selama beberapa hari warga tersebut seperti menghilang dari grup. Tidak lagi menyebarkan informasi. Sesuatu di luar kebiasaan ini menjadi pertanyaan anggota grup lainya. Mereka saling bertanya.

“Belakangan diketahui orang tersebut ternyata positif Covid-19,” kata teman saya melanjutkan. Ia tidak mengumumkan sakitnya di grup seperti kebiasaan warga lainnya sehingga warga bisa saling bergotong royong untuk membantu. “Mungkin dia malu,” kata teman saya mencoba menebak-nebak.

Saya diam sejenak. “Yaa…semoga itu menjadi hikmah buat dia,” kata saya seraya mendoakan agar dia cepat sembuh. Hikmah adalah pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa, termasuk saat orang menerima musibah. Pelajaran itu semoga bisa menjadi petunjuk untuk membangun kesadaran baru. Itu harapan saya dan kita semua.

Di tengah musibah besar seperti saat ini, banyak orang yang berperilaku absurd, tak masuk akal. Meninggalnya ribuan orang karena Covid-19 tak bisa menyadarkan hati dan pikiran kaum ini. Orang tidak percaya terhadap Covid-19, itu urusan privat. Toh kita tidak bisa memaksa pikiran lain. Tapi kalau kemudian mereka memprovokasi di ruang publik, apalagi membangkang melanggar protokol kesehatan, ini layak kita kritik.

Mereka orang yang kehilangan empati. Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dengan bahasa lain, orang yang berempati artinya orang itu mampu menempatkan pikiran dan perasaan pada posisi orang lain. Sebaliknya nirempat ketika orang itu mengambil jarak dengan orang lain, bahkan dengan orang yang terkena musibah sekalipun.

Fitrah Kehidupan

Sesungguhnya empati menjadi bagian dari sisi kehidupan. Ini fitrah yang didesain Tuhan kepada makhluknya, khususnya manusia. Dalam konteks pandemi, orang yang berempati bisa merasakan orang-orang yang terkena Covid-19, merasakan kehilangan orang-orang yang dicintai, merasakan kehidupan anak-anak yang jadi yatim bahkan yatim piatu. Bisa merasakan orang yang terdampak langsung atas musibah ini.

Empati menjadikan orang benar-benar hidup. Mereka akan bergerak. Berempati juga berarti paham masalah. Mereka akan menggunakan kreativitasnya, membangun gerakan, mengembangkan kebudayaan untuk mengatasi masalah, dan menciptakan kehidupan lebih baik.

Peradaban, termasuk ilmu pengetahuan, selalu diawali kesadaran akan masalah. Lha, bagaimana mau menciptakan peradaban kalau mereka menyangkal ada masalah?

Saya tertarik dengan konsep yang dibuat oleh Friedrich August Wolf, seorang pendiri filologi modern, tentang erklaren dan verstehen seperti dikutip F. Budi Hardiman di buku Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derida. Dua terminologi itu banyak dipakai untuk menggambarkan perilaku seseorang terkait objek yang diamati.

Pada ranah erklaren, orang akan menempatkan diri pada “sisi luar” dari realitas. Ia mengambil jarak dari objeknya. Menempatkan diri sebagai orang lain. Pada tahap ini orang tidak melibatkan empati.

Pada posisi verstehen, orang akan melihat fenomena dari “sisi dalam” terhadap objek. Dia mengambil bagian dalam dunia mental orang lain (berempati). Pada pendekatan verstehen, seseorang akan mengambil bagian agar bisa memahami orang lain. Hal yang sangat penting, pendekatan verstehen mendorong orang bisa menemukan “makna” atas sebuah fenomena.

Orang yang mengambil posisi “sisi luar” dari krisis akibat pandemi ini yang sebenarnya menjadi common enemy atau “musuh bersama”. Mereka tidak mengambil bagian dari penyelesaian masalah, tetapi justru menjadi bagian dari problem. Mereka bagian dari barrier (halangan) untuk keluar dari krisis yang memakan banyak korban ini.

Orang-orang yang berada di “sisi luar” bukan hanya dari mereka yang tidak percaya terhadap pandemi ini. Tetapi juga mereka yang tidak peka, menganggap seolah kondisi baik-baik saja. Politikus yang tetap rajin tebar pesona di balik penderitaan banyak. Para wakil rakyat menuntut fasilitas kesehatan yang “wah” di saat banyak rakyat meninggal karena tak terlayani fasilitas kesehatan.

Banyak orang menggunakan dogma agama secara literal dengan menentang ikhtiar sains untuk keluar dari krisis. Mereka lupa Covid-19 juga ciptaan Tuhan yang harus diakui dan dihindari adanya secara bertanggungjawab. Mereka lupa Tuhan mendorong makhluknya menggunakan akal untuk berpikir, berpikir dan berpikir. Bukan untuk menyangkal ciptaan-Nya.

Pejabat tega mengorupsi bantuan sosial untuk orang miskin, tetapi mereka dituntut hukuman enteng-entengan saja. Para juru adil tanpa beban mendiskon hukuman para penjahat uang rakyat dengan mengatasnamakan keadilan. Entah model keadilan seperti apa yang ada di pikiran mereka. Saya tidak mengerti.

Saya kembali terdiam. Pikiran saya berkecamuk. Apakah mereka orang-orang yang kehilangan “makna” dalam hidupnya? Wallahua’lam…


Berita Terkait

Berita Terkini

Peran Pemberitaan Pemerintah dalam Komunikasi Publik Masa Kini

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten

Sistem Pembayaran Pensiun di Indonesia

Opini ini ditulis Yuniar Yanuar Rasyid, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat AP Kementerian Keuangan.

Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

Selama 16 Tahun Berhasil Provokasi Puluhan Orang Tinggalkan Zona Nyaman

Esai ini ditulis oleh Dr Aqua Dwipayana, Penulis Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.