Kisah Radio Umum Sragen, Primadona Warga yang Kini Terpinggirkan

Saat radio masih menjadi barang mewah, Radio Umum hadir sebagai corong informasi dari pemerintah kepada rakyat dan sarana hiburan.

 Kondisi bangunan Radio Umum Sragen di pojok simpang empat Cantel tepatnya di Kampung Cantel Kulon, Sragen Kulon, Sragen, Sabtu (11/9/2021). (Solopos-Moh Khodiq Duhri)

SOLOPOS.COM - Kondisi bangunan Radio Umum Sragen di pojok simpang empat Cantel tepatnya di Kampung Cantel Kulon, Sragen Kulon, Sragen, Sabtu (11/9/2021). (Solopos-Moh Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Sepintas tidak ada yang istimewa dari sebuah bangunan menyerupai tugu di pojok jalan Kampung Cantel Kulon, Sragen Kulon, Sragen. Bagian atas bangunan setinggi sekitar 4 meter itu lebih menyerupai pagupon yang biasa dipakai sebagai kandang merpati.

Bila diintip, di dalam “pagupon” tidak ada seekor pun burung. Satu-satunya barang yang terlihat hanya seperangkat sound system yang sudah usang. Ya, bangunan itu tak lain adalah Radio Umum Sragen yang dibangun pemerintah pada era 1960-an atau pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno.

Saat radio masih menjadi barang mewah, Radio Umum hadir sebagai corong informasi dari pemerintah kepada rakyat. Bertepatan dengan Hari Radio, Sabtu (11/9/2021), Solopos.com memotret kondisi terkini dari Radio Umum yang berlokasi di simpang empat Cantel tersebut.

Baca juga: Wow, Program Sekolah Sehat SMPN 1 Sidoharjo Sragen Juara II Se-Asia Tenggara Lho!

Radio Umum kali terakhir direnovasi pada 2011 silam. Meski usia renovasi sudah menyentuh 11 tahun, kondisi fisik dari Radio Umum Sragen terbilang masih baik. Warga sekitar masih rutin memperbaiki catnya.

Namun, sejak operator radio itu meninggal dunia pada 2017, tak ada lagi orang yang mengoperasikan radio itu. Radio itu pun sudah lama tidak terdengar suaranya.

Pidato Presiden Soekarno

Kemajuan teknologi informasi akhir-akhir ini juga membuat Radio Umum ditinggalkan. Padahal, Radio Umum pernah menjadi primadona bagi warga Sragen, tepatnya pada 1960-an hingga 1990-an.

“Saya ingat betul, dulu waktu saya masih kecil, kami berbondong-bondong datang ke Radio Umum untuk mendengarkan Pidato Presiden Soekarno. Saat itu, warga yang datang membeludak. Warga yang biasa bertani menghentikan aktivitasnya untuk mendengarkan pidato presiden di Radio Umum,” papar Supangat, 82, warga Ngemplak, Sragen Wetan, saat ditemui Solopos.com, Sabtu.

Baca juga: Banyak Warga Sragen Ajukan Izin Hajatan, Ini Aturannya Sesuai Instruksi Bupati

Pada masa Orde Baru, Radio Umum tidak hanya dimanfaatkan sebagai corong informasi dari pemerintah. Lebih dari itu, Radio Umum benar-benar menjadi sarana hiburan bagi warga. Saat itu, radio umum kerap memutar pementasan wayang kulit, musik keroncong, serta hiburan lain.

“Saat yang ditunggu-tunggu warga ialah pengundian pemenang Nasional Lotre atau Nalo yang diumumkan melalui Radio Umum. Bisa dibilang, Nalo itu produk judi. Tapi, pada masa Pak Harto [Presiden Soeharto], hal itu dilegalkan. Sebelum diumumkan, biasanya diputar lagu Walang Kekek yang dinyanyikan Waldjinah. Kalau lagu itu sudah diputar, warga langsung berdatangan karena lagu itu menandakan pemenang Nalo segera diumumkan,” papar Supangat.

Kupon Nalo dan Porkas

Tidak hanya Nalo, Orde Baru juga sempat melegalkan bentuk perjudian lain seperti Lotre Pekan Olahraga dan Ketangkasan (Porkas). Saat itu, pemerintah Orde Baru berdalih dana yang dihimpun dari Lotre Porkas bakal dipakai untuk membiayai kegiatan Porkas.

Baca juga: Jadi Vaksinator, Bupati Sragen Sempat Peluk Siswa SMP yang Takut Jarum Suntik

“Dulu warga mudah mendapatkan kupon Nalo dan Porkas karena banyak yang jual keliling. Itu hampir sama dengan judi jenis singapura. Bedanya, kalau dulu kupon dijual dengan terang-terangan karena dilegalkan oleh pemerintah, sekarang dijual dengan sembunyi-sembunyi karena takut digaruk polisi. Dua lotre itu sama-sama diumumkan pemenangnya di Radio Umum,” seloroh Supangat.

Senada dikatakan Darto, 74, warga Sragen Tengah. Menurutnya, Radio Umum Sragen pernah menjadi satu-satunya media hiburan bagi warga di Bumi Sukowati.

Karena masih menjadi barang mewah, tak banyak warga yang memiliki radio, apalagi televisi. “Saya ingat, setiap Senin dulu selalu diputar wayangan. Banyak pengayuh becak yang berhenti di situ untuk mendengarkan wayangan,” paparnya.


Berita Terkait

Berita Terkini

UNS Solo Dampingi IKM di Laweyan Penuhi Syarat SNI Batik

RG RITE Fakultas Teknik UNS Solo memberikan pendampingan kepada IKM Batik Pandono di Laweyan, Solo, agar memenuhi syarat sertifikasi batik.

Jadwal Pemadaman Listrik Sragen Hari Ini (25/10/2021), Mana Saja?

Berikut jadwal pemadaman listrik di Sragen, Jawa Tengah, hari ini, Senin (25/10/2021) yang berlangsung selama tiga jam.

Jadwal Pemadaman Listrik Solo dan Karanganyar Hari Ini (25/10/2021)

Berikut jadwal pemadaman listrik di Solo dan Karanganyar hari ini, Senin (25/10/2021) yang berlangsung selama tiga jam.

Kwarcab Pramuka Boyolali Targetkan 1.000 Pembina Bersertifikat KMD

Sertifikasi pembina pramuka menjadi urgen menyusul kegiatan kepanduan ini menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah yang menerapkan kurikulum 2013.

Suharno, Peternak Sukses Klaten Punya Kambing Etawa Dihargai Rp300 Juta

Suharno mengakui salah satu kambing etawa pejantan miliknya dihargai hingga Rp300 juta.

Berharap Showroom Bersama Kampung Batik Kauman Solo Dihidupkan Lagi

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman berharap showroom bersama produk batik lokal dihidupkan lagi.

Canon Mati Seusai Ditangkap Satpol PP Aceh, SAS Solo Tuntut Pengusutan

Komunitas Sahabat Anjing Surakarta menuntut pengusutan tuntas kasus anjing bernama Canon yang mati setelah ditangkap Satpol PP di Aceh.

Pemkot Solo Perbarui Kerja Sama Sister City dengan Xian & Zhuhai China

Kerja sama sister city antara Solo dengan dua kota di China diperbarui karena adanya perubahan aturan pada Peraturan Pemerintah.

Kambing Etawa Bikin Milenial Klaten Tertarik Geluti Peternakan

Menggeliatnya peternak kambing etawa di Klaten semakin menggaet kalangan milenial untuk menggeluti usaha bidang peternakan.

Harga Fantastis, Kambing Etawa Jadi Primadona Baru Peternak di Klaten

Meningkatnya jumlah peternak kambing etawa itu menyusul belakangan harga jual kambing tersebut kian fantastis.

SGS 2021, Panitia Yakin Target Rp800 M Tercapai Sebelum Akhir Bulan

Target transaksi Solo Great Sale atau SGS 2021 hingga akhir pekan ini tercapai Rp501 miliar dari total target Rp800 miliar pada akhir bulan nanti.

Ingin Dolan ke TSTJ Solo? Pengunjung Wajib Perhatikan Sejumlah Hal ini

Meski ada kelonggaran, sejumlah aturan tetap harus diperhatikan oleh para pengunjung objek wisata kebun binatang TSTJ Solo.

Rusak, Jl Duwet Raya di Perbatasan Solo-Sukoharjo-Karanganyar Direhab

Pemkot Solo memperbaiki Jl Duwet Raya di perbatasan Solo-Sukoharjo-Karanganyar yang selama beberapa tahun terakhir rusak dan banyak lubang.

Banteng vs Celeng, PDIP Klaten Madep Mantep dengan Megawati

Ketua DPC PDIP Klaten, Sri Mulyani, mengatakan tidak ada dukung mendukung di internal PDIP Klaten dengan narasi banteng vs celeng.  

Siap-Siap! 29 Sekolah Lagi di Solo bakal Dites Swab Acak

Tes swab PCR secara acak di lingkungan bakal digelar di Kota Solo dengan sasaran 29 sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA sederajat.