Tutup Iklan

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

 Lilik Sriyanti

SOLOPOS.COM - Lilik Sriyanti

Kemerdekaan bangsa Indonesia diraih dengan pengorbanan nyawa dan harta, diperjuangkan dengan mengangkat senjata sehingga berhasil mengusir penjajah. Indonesia sudah terlepas dari kekuasaan penjajah, namun bangsa Indonesia masih belum terbebas dari Covid-19. Masih banyak orang terampas kemerdekaannya akibat Covid-19.

Tata aturan kehidupan baru untuk selalu mengenakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas disadari atau tidak menjadi tekanan tersendiri bagi sebagian orang. Anak sekolah harus belajar secara daring, guru dituntut menguasai strategi pembelajaran baru, lahir kebijakan work from home di mana para pegawai harus bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan kewajiban pokoknya. Rasa jenuh, bosan dan stres mulai menghinggapi banyak orang.

Di sisi lain, warga yang isoman ditemukan di mana-mana, ribuan orang harus dilarikan ke rumah sakit, banyak anak menjadi yatim dan piatu, kondisi ekonomi runtuh, para karyawan terkena PHK. Problem psikologis bermunculan di masa pandemi. Kondisi mental mulai rapuh, emosi menjadi tidak stabil, mudah murah, mudah tersinggung dan merasa hampa. Covid-19 dianggap sebagai biang keladi yang memporakporandakan tatanan kehidupan.

Hiruk pikuk persoalan di masa pandemi juga menggerus sendi-sendi keluarga. Pertengkaran-pertengkaran antar anggota keluarga mulai bermunculan, keretakan rumah tanggapun makin menggejala, yang akhirnya perempuan dan anak menjadi korban keadaan.

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak menunjukkan terjadi peningkatan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta peningkatan angka perceraian selama pandemi. Nyatanya Covid-19 sudah merampas kemerdekaan masyarakat Indonesia.

Psychological Empty

Psychological empty merupakan ancaman bagi hidup manusia. Deretan orang sukses banyak yang mengakhiri hidup secara tragis karena dihinggapi sindrom psychological empty. Artis legendaris Marilyn Monroe meninggal karena overdosis obat, miliarder asal Rusia Scot Young meninggal secara mengerikan setelah loncat dari lantai empat rumahnya dan tubuhnya tertusuk pagar besi.

Adolf Merckle penyandang gelar orang terkaya di Jerman menabrakkan badannya ke kereta api, demikian juga Jesse Livermore milyader Amerika Serikat ini mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya. Artis asal India, Prattusha Banerjee, Lee Eun artis Korea dan Jiah Khan semua mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Bisa meraih segala yang diinginkan tidak menjamin seseorang menjadi bahagia.

Pychological empty rentan terjadi pada masa pandemi. Kita perlu memperingati kemerdakaan bangsa dengan kemerdekaan psikologis. Jangan lupa untuk tetap bahagia di tengah situasi pandemi. Viktor Frankel seorang dokter jiwa, tokoh Logo therapy yang dipenjara oleh Nazi berhasil meraih independent psychological. Dia mempunyai prinsip yang teguh bahwa orang bisa merampas kebebasannya, namun tidak bisa menghalangi untuk bahagia. Kebahagiaan berada dalam kendali kita.

Mahatma Gandi mengatakan tidak ada orang bisa menyakiti kita kecuali kita izinkan orang menyakiti kita. Mau sedih, sakit, menderita atau bahagia semua berada dalam kendali diri sendiri.

Mungkin saat ini ada di antara kita sedang terpuruk, kesulitan ekonomi, sedang difitnah, dijauhi sahabat, mendapat tekanan dari orang lain, kita boleh menentukan pilihan untuk menjadi sakit karena persoalan-persoalan tersebut atau tetap merdeka dan bahagia.

Kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Kemerdekaan psikologis harus dibangun. Unconditioing happiness, untuk bahagia tidak perlu menunggu sehat, kaya, terkenal, punya pangkat-jabatan, mempunyai anak-anak yang sukses.

Kebahagiaan berada dalam kendali diri sendiri. Belajar berdamai dengan kenyataan menimbulkan rasa ikhlas, bahagia dan rasa syukur. Kita harus tetap merdeka secara psikologis di masa pandemi ini.

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.