Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

 Marwanto

SOLOPOS.COM - Marwanto

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia biasa diperingati dengan suka-cita, dan semangat dalam menyambutnya. Pada umumnya, hal itu diawali dengan berbagai perlombaan, tirakatan, doa bersama, ziarah ke taman makam pahlawan, pembagian hadiah pemenang perlombaan, dan diakhiri dengan pelaksanaan upacara kemerdekaan. Semua begitu semarak dan meriah.

Peringatan HUT ke-76 RI mempunyai berbagai macam arti bagi bangsa Indonesia. Pada dasarnya memperingati kemerdekaan adalah menghormati, menghargai, dan mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dan berhasil merebut kemerdekaan.

Dalam mengisi dan merayakan Hari Kemerdekaan masyarakat sering mengadakan berbagai macam perlombaan di berbagai daerah. Hal itu dalam rangka melatih kerja sama, sportivitas, dan menumbuhkan sikap rela berkorban.

Sebelum berbagai perlombaan berlangsung, biasanya desa dan kota ramai orang-orang memasang pernik-pernik perayaan kemerdekaan. Para warga bersama-sama bergotong-royong mengecat jalan, memasang berbagai macam bendera, dan memasang bendera merah putih di depan rumah bagi semua warga.

Jauh sebelumnya sudah ramai, mulai dari kampung, desa, kecamatan, bahkan sampai perkotaan. Semua melaksanakan berbagai perlombaan dan kegiatan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan. Anak-anak, orang dewasa, ibu-ibu dan bapak-bapak, sampai orang tua. Semua ikut berpartisipasi mengikuti berbagai macam lomba yang diadakan di tempat atau daerah mereka masing-masing. Balap karung menjadi salah satu perlombaan favorit untuk ibu-ibu, panjat pinang biasa dilakukan orang dewasa dan bapak-bapak, memasukkan pensil ke dalam botol bagi anak-anak, atau berbagai jenis perlombaan yang lain.

Sekarang yang menjadi sebuah pertanyaannya adalah bagaimana, apabila semua perlombaan dilakukan secara daring. Masih seru dan ramaikah! Padahal biasanya, berbagai perlombaan digelar secara langsung dengan banyak penonton. Saat ini harus dijalani secara daring atau virtual. Kegiatan perlombaan yang awalnya ramai menjadi sepi peminat. Konsep acara yang sudah di susun dengan baik dan rapi, hanya menjadi penghias kertas putih tanpa realisasi. Semangat untuk menjadi pemenang lomba buyar dan hilang seketika.

Pada 2020 yang lalu. Peringatan Kemerdekaan sudah masuk pada masa pandemi Covid-19. Kegiatan upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi maupun Upacara Penurunan Bendera sudah dilakukan secara terbatas. Hari itu yang bertugas juga sangat terbatas. Sementara tamu yang diundang mengikuti semua rangkaian upacara secara daring.

Pada 2021 ini mestinya juga akan berlangsung demikian. Suasana masih dalam keadaan pandemi atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kebijakan ini dilakukan untuk menekan laju penyebaran virus corona tentunya. Kebijakan ini sudah berlangsung tiga tahap yakni 21-25 Juli 2021, 26 Juli-2 Agustus 2021, dan 3-9 Agustus 2021.

Berbagai perlombaan harus dilaksanakan secara virtual. Namun, hal ini tidak kalah menarik dengan lomba yang dilakukan secara luring seperti pada sebelumnya. Sebagai contohnya lomba video quote kemerdekaan, puisi, atau menghias dusun atau desa, masih banyak yang antusias mengikutinya. Semua kegiatan dilaksanakan secara protokol kesehatan dan menghindari kerumunan.

Pelaksanaan upacara HUT ke-76 RI juga dilaksanakan secara terbatas, baik petugas maupun pesertanya. Semua tamu undangan dan berbagai instansi melaksanakan secara daring atau di rumah masing-masing. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi rasa hikmat dalam melaksanakannya. Semangat merayakan HUT ke-76 RI jangan pernah luntur dan hilang, walaupun masih dalam suasana pandemi.

Semua bisa dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan dengan peserta dan petugas secara terbatas. Pada intinya peringatan dan perayaan HUT ke-76 RI adalah bagaimana memupuk kesadaran, berterima kasih, dan menghargai perjuangan para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Bung Karno pada Hari Pahlawan 10 November 1961 menyampaikan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”. Hal ini yang harus selalu dipupuk, dikembangkan, dan diajarkan kepada bangsa Indonesia, terutama generasi muda.

Penghargaan terhadap para pejuang bangsa serta para pahlawan dapat ditunjukkan dengan berbagai upaya untuk mengisi kemerdekaan. Semua itu guna menuju tercapainya tujuan nasional bangsa Indonesia. Peringatan dan perlombaan dalam rangka memperingati kemerdekaan secara virtual atau daring pada hakikatnya mempunyai tujuan yang sama yakni menghargai, menghormati, dan mengingat kembali jasa-jasa para pahlawan.


Berita Terkait

Espos Premium

Berita Terkini

Peran Pemberitaan Pemerintah dalam Komunikasi Publik Masa Kini

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten

Sistem Pembayaran Pensiun di Indonesia

Opini ini ditulis Yuniar Yanuar Rasyid, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat AP Kementerian Keuangan.

Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

Selama 16 Tahun Berhasil Provokasi Puluhan Orang Tinggalkan Zona Nyaman

Esai ini ditulis oleh Dr Aqua Dwipayana, Penulis Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.