Tempati Tanah Kas Desa, 3 Warga Pertanyakan Nasib UGK Tol Joglo

Tiga warga Kadirojo 2, Kalurahan Purwomartani, Kalasan mempertanyakan nasib uang ganti kerugian bangunan tol Jogja-Solo (Joglo).

 Budi Zai dan Muzakir warga Kadirojo 2 yang menempati lahan TKD menunggu pembayaran UGK lahan pembangunan tol Jogja-Solo yang hingga kini belum dibayar, Rabu (15/9)

SOLOPOS.COM - Budi Zai dan Muzakir warga Kadirojo 2 yang menempati lahan TKD menunggu pembayaran UGK lahan pembangunan tol Jogja-Solo yang hingga kini belum dibayar, Rabu (15/9)

Solopos.com, SLEMAN- Sebanyak tiga warga Kadirojo 2, Kalurahan Purwomartani, Kalasan mempertanyakan nasib uang ganti kerugian bangunan tol Jogja-Solo (Joglo) yang sampai saat ini belum diterima. Ketiganya saat ini menempati tanah kas desa (TKD).

Budi Zai, warga Kadirojo 2, mengatakan sejak Maret lalu, puluhan warga yang terdampak pembangunan jalan tol Jogja-Solo menerima uang ganti kerugian. Hanya tiga warga Kadirojo 2 yang belum mendapatkan uang ganti kerugian (UGK).

Mereka yang belum menerima UGK Tol Joglo merupakan warga yang selama ini menempati TKD. Meskipun menempati TKD, katanya, tim Appraisal juga sudah menilai bangunan di atas TKD tersebut untuk menerima UGK.

Baca juga: Hore! Warga Margokaton Sleman Bersiap Jadi Milader

Saat kegiatan musyawarah warga pada Desember 2020 lalu, Budi dan warga yang menempari lahan TKD lainnya juga ikut diundang. Namun disaat proses pembayaran UGK pada Maret lalu, ia dan dua warga lainnya tidak diundang. Sehingga belum mendapatkan UGK pembangunan jalan tol Joglo yang dijanjikan.

“Sampai hari ini pun kami tidak tahu kapan UGK kami dibayar. Pernah bertanya ke PPK diminta untuk bersabar karena untuk pelepasan TKD ada tahapannya,” kata Budi kepada Harian Jogja, Rabu (15/9).

Ia dan dua warga lainnya pun bersabar. Namun hingga enam bulan ini sejak Maret-September, masih belum ada sinyal pembayaran UGK tol Joglo bagi mereka. Sialnya, tanah waga lainnya yang sudah dibebaskan di Kadirojo 2 dan Temanggal 2 saat ini sudah dalam proses land clearing atau pembersihan lahan.

Baca juga: Masyarakat Bantul Diminta Jangan Pilih-pilih Merk Vaksin Ya

Dampak Psikologis Tol Joglo

Meski Budi mengaku tidak diusir dari lahan dan rumahnya saat ini, namun mereka tetap terkena dampak dari pembersihan lahan tersebut. Selain dampak kesehatan akibat debu yang beterbangan, kata Budi, secara psikologis mereka terganggu. Dengan keberadaan alat-alat berat di sekitar lokasi pembangunan jalan tol Joglo.

“Alat berat kan melakukan pembersihan lahan, wah debunya kemana-mana. Saya khawatir dengan kesehatan keluarga saya. Untung kemarin hujan jadi debunya tidak beterbangan,” katanya.

Budi mengaku menempati satu bidang lahan TKD bersama tetangganya, Muzakir. Luas lahan TKD sekitar 300 meter persegi. Lahan tersebut dibagi dua dengan Muzakir. Budi sendiri menempati lahan tersebut dengan sistem sewa sejak 22 tahun lalu.

“Ya kami hanya berharap, setidaknya bangunannya dibayar dulu (UGK) kalau memang pembayaran TKD ada mekanisme tersendiri. Karena bangunan ini sudah dinilai appraisal juga. Kalau dibayar saya bisa cari tanah pengganti atau bangun rumah,” katanya.

Baca juga: BPUM Untuk 1.126 Pelaku UKM Jogja Cair, Segini Nilainya

Hal senada disampaikan Muzakir, tetangga Budi. Kakek berusia 65 tahun ini mengaku bingung dengan kondisi tersebut. Bangunan rumah permanen yang dibangun di atas TKD tersebut dihuni oleh keluarganya, termasuk cucunya yang masih bayi. “Sampai sekarang juga bingung mau pindah ke mana. Mau ngontrak tidak ada uangnya. Belum dibayar (UGK),” katanya.

Terpisah, Dukuh Kadirojo 2 Purwomartani, Petrus Budi Santosa membenarkan hampir semua rumah yang terdampak pembangunan jalan tol Joglo dibongkar oleh pemiliknya. Hanya bangunan rumah warga yang menempati TKD yang belum dibongkar karena belum mendapatkan UGK.

Budi menjelaskan, untuk TKD memang belum dapat pembayaran uang ganti kerugian, termasuk (bangunan) yang menyewa atau menempati lahan TKD tersebut. Budi pun meminta agar warga yang menempati lahan TKD untuk bersabar. “Kami minta untuk tetap tinggal, tidak bongkar rumah sebelum dibayar,” katanya.

Baca juga: Marah Sultan Ground Rusak, Gubernur DIY Tutup 14 Lokasi Penambangan Ilegal

Bidang Terdampak Tol Joglo

Dia juga mendesak agar panitia pengadaan seperti BPN dan PPK untuk mengupayakan pembayaran secepatnya kepada warga terdampak yang menempati TKD. Hal ini bertujuan untuk menjaga psikologis mereka. “Kami akan mencarikan TKD atau lahan lungguh lainnya sebagai pengganti,” katanya.

Di Kadirojo 2, terdapat 82 bidang terdampak jalan tol Joglo. Mayoritas lahan terdampak berupa area persawahan. Di lokasi lahan terdampak, mayoritas rumah sudah rata dengan tanah. Bahkan ada sebuah bangunan yang sedang dalam proses pembongkaran menggunakan alat berat.

Kepala Bidang Pengadaan Tanah BPN Kanwil DIY Margaretha Elya Lim Putraningtyas mengakui jika untuk lahan TKD belum ada pembayaran UGK termasuk bangunan yang berada di atas lahan tersebut. Pembayaran akan dilakukan jika seluruh persyaratan untuk pembebasan lahan TKD sudah terpenuhi.

“Untuk pelepasan hak atas TKD harus diproses dulu izinnya,” kata Ely singkat.

 

 

 

 


Berita Terkait

Berita Terkini

Ternyata... Gaji Debt Collector Pinjol Ilegal di Sleman Setara UMR

Debt collector salah satu kantor pinjol ilegal di ruko lantai 3, Jalan Prof Herman Yohanes, Depok, Sleman, DIY digaji sesuai UMR Yogyakarta.

Pemkot Jogja Tidak Lagi Gunakan Metode Swab untuk Tes Covid-19, Lalu?

Pemerintah Kota Jogja tidak akan lagi menggunakan metode swab dalam pengambilan sampel tes Covid-19.

Bertambah, Pasien Covid-19 Klaster Senam Sehat di Bantul Jadi 14 Orang

Jumlah pasien Covid-19 dari klaster senam di Mbelan, Sidomulyo, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul terus bertambah hingga Kamis (14/10/2021), tercatat 14 orang.

Ini Daftar Wisata Terbaru di Yogyakarta yang Instagramable

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki beragam destinasi wisata terbaru yang layak dikunjungi.

Wisata Pantai di Gunungkidul Kapan Buka?

Inilah penjelasan kenapa sampai saat ini objek wisata pantai di Gunungkidul tak kunjung dibuka.

Jual ke Penyedia Nikah Siri, Komplotan Pencuri Buku Nikah Diringkus

Aparat Polres Gunungkidul meringkus komplotan pencurian spesialis buku nikah dan akta nikah untuk dijual lagi ke penyedia jasa nikah siri dan kawin kontrak.

Tabrakan Pikap dan Scoopy Di Kulonprogo, Dua Orang Tewas di TKP

Dua orang meninggal dunia seketika di tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan antara pikap dan Scoopy di Kulonprogo.

Gempa 4,9 Magnitudo Goyang Yogyakarta, Warga Berhamburan Keluar Gedung

Gempa bumi berkekuatan 4,9 Magnitudo yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur, turut dirasakan warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

7 Warga Positif Covid-19 dari Klaster Tilik Bantul Dipindahlan ke RSLKC

Warga yang terpapar Covid-19 dari klaster tilik di Srigading, Saden, Bantul mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid (RSLKC) Bambanglipuro Bantul.

Gempa Kekuatan Magnitudo 4,9 Guncang Yogyakarta Siang Ini

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,9 di ke kedalaman 10 kilometer (km) dan pusat gempa di perairan selatan Jawa.

Antisipasi Gelombang Tiga, Dinkes Sleman Jemput Bola Vaksinasi Covid-19

Kepala Dinkes Kabupaten Sleman, Cahya Purnama, menyampaikan penurunan level PPKM berdampak pada pelonggaran aktivitas dan mobilitas masyarakat.

Siaga Banjir Lahar di Merapi, BPBD Sleman Andalkan 20 EWS

BPBD Sleman menyiagakan 20 unit early warning system (ews) di lereng Merapi dan Prambanan untuk mengantisipasi banjir lahar di Kali Gendol dan Kali Boyong.

Dapat Izin Menparekraf, GL Zoo Perbolehkan Anak di Bawah 12 Tahun Masuk

Pengelola kebun binatang Gembira Loka atau GL Zoo memperbolehkan anak usia di bawah 12 tahun untuk masuk ke dalam area wisatanya.

Klaster Tilik Muncul di Bantul, 9 Warga Positif Covid-19

Klaster penularan Covid-19 dari aktivitas menjenguk orang sakit atau tilik muncul dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Warga Gampingan Jogja Ubah Lahan Kumuh Jadi Rintisan Kampung Anggur

Warga Kampung Gampingan RW 011, Kelurahan Cokrodiningratan, mengubah lahan kumuh menjadi rintisan kampung anggur secara bertahap.