SOLOPOS.COM - Ilustrasi pinjaman online (Istimewa).

Solopos.com, SOLO — Sudah sejak lama masyarakat selalu diingatkan untuk waspada setiap kali akan mengajukan pinjaman online. Pasalnya, ada ancaman pinjaman online ilegal yang bisa menjerat keuangan korbannya dengan tingkat bunga selangit dan denda keterlambatan mencekik.

Di sisi lain, berdasarkan kasus-kasus penipuan yang sudah pernah terjadi sebelumnya, hampir semua pinjaman online palsu memiliki cara kerja yang kurang lebih sama dalam menjerat korbannya. Secara umum, layanan yang ditawarkan oleh pinjaman online ilegal ini tak jauh berbeda dengan rentenir yang selama ini dipahami oleh masyarakat.

Promosi Sistem E-Katalog Terbaru LKPP Meluncur, Bisa Lacak Pengiriman dan Pembayaran

Baca Juga: Problem Bansos Sragen, Solo, Wonogiri, Diselesaikan Mensos di Lobi Guest House

Hanya saja layanannya ditawarkan secara online sehingga lebih mudah dalam menjebak korbannya. Dengan mengetahui tabiat pinjol ilegal dalam menjerat mangsanya, Anda tentu menjadi lebih waspada dan menjadi tidak korban selanjutnya. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah cara kerja pinjaman online ilegal yang perlu diketahui.

1.Mengambil Seluruh Data Pribadi Nasabah Tanpa Izin

Pinjaman online merupakan layanan keuangan yang umumnya ditawarkan dan diajukan via aplikasi pada perangkat smartphone. Sama halnya dengan aplikasi lain pada umumnya, aplikasi pinjaman uang online baik yang resmi dan tidak resmi akan meminta izin untuk mengakses fitur atau informasi yang terdapat pada perangkat tersebut.

Baca Juga: Lionel Messi Malah di Barcelona saat PSG Berlaga di Liga Prancis

Bedanya, aplikasi pinjaman online yang resmi hanya meminta izin akses pada 3 fitur smartphone saja yaitukamera, lokasi, dan microphoneuntuk keperluan proses pengajuan pinjaman. Di sisi lain, aplikasi pinjaman online ilegal biasanya meminta izin akses pada semua fitur dan juga data yang ada pada smartphone nasabahnya.

Hal tersebut tentu memudahkan oknum dalam mengeruk seluruh informasi pribadi nasabah, sepertinomor kontak dan galeriuntuk kemudian disalahgunakan. Inilah tahap awal yang dilakukan oleh pinjaman online ilegal dalam menjebak korbannya.

2. Menjadikan Data Pribadi Sebagai Bahan untuk Meneror Nasabah

Selanjutnya, setelah seluruh data pribadi korbannya dikantongi, oknum pinjol ilegal akan menggunakannya sebagai bahan untuk melakukan aksi teror saat nasabah tak mampu melunasi cicilan tepat waktu. Cara paling umum yang dilakukan oleh oknum pinjol ilegal ini adalah menyebarkan kabar nasabah terlilit utang kepada seluruh nomor kontak yang tersimpan pada ponselnya.

Bahkan, tak sedikit korban pinjaman online ilegal yang mengalami fitnah, pencemaran nama baik, sampai pelecehan seksual, sehingga kondisi psikis dan kehidupan sehari-harinya terganggu. Data pribadi, seperti foto, nomor rekening, swafoto dengan membawa KTP, dan sebagainya pun bisa disalahgunakan untuk melakukan tindakan menyalahi hukum atas nama korbannya.

Baca Juga: Jadwal Perdana Liga Italia Pekan Ini: Inter Vs Genoa, Juventus Vs Udinese, Milan Vs Sampdoria

3. Melakukan Blast SMS untuk Melakukan Penagihan

Selanjutnya, jika cara di atas masih belum cukup untuk membuat korban melunasi utangnya, pihak pinjol ilegal akan terus melakukan pengiriman SMS hingga spam dengan cara blast SMS. Blast SMS tersebut dilakukan dengan menggunakan ribuan nomor atau kartu SIM dan bisa mengirim hingga ratusan SMS dalam satu waktu.

Saat mengalami hal ini, korban pinjol ilegal disarankan untuk segera mengganti nomor handphone agar tak terus mendapatkan gangguan. Lalu, jika sampai mendapatkan tindakan kekerasan, jangan ragu untuk langsung melaporkannya ke kepolisian, OJK atau Satgas Waspada Investasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

4. Mengirim Uang Tak Sesuai dengan Nominal yang Diajukan Nasabah

Selain cara-cara di atas, pinjaman online ilegal juga sering kali bertindak curang dengan mengirimkan dana pinjaman tak sesuai dengan yang diajukan oleh nasabahnya. Sebagai contoh, nasabah mengajukan pinjaman sejumlah 1 juta. Namun, dari pihak pinjol ilegal hanya mengirimkan uang sejumlah 800 atau 900 ribu saja.

Adanya pengurangan nominal dana yang dikirim tersebut membuat nasabah tak mampu mengatasi masalah keuangan yang mungkin sedang dihadapinya. Alhasil, mereka secara terpaksa mengajukan pinjaman kembali dengan nominal lebih tinggi dan meningkatkan beban cicilan per bulannya.

Baca Juga: Profil Waldjinah, Penyanyi Keroncong Asal Solo yang Terkenal hingga Mancanegara

5. Membebankan Tingkat Bunga dan Denda Keterlambatan Selangit

Terakhir, agar korbannya semakin kesulitan melunasi tagihan dan selamanya harus membayar cicilan, pinjaman online membebankan tingkat bunga dan denda keterlambatan selangit. Berdasarkan aturan dari OJK, pinjaman online resmi hanya boleh memberikan tingkat bunga maksimal sebesar 0,8 persen per hari atau 24 persen per bulan.

Pada pinjol ilegal, tingkat bunga yang dibebankan nilainya bisa berkali-kali lipat dari ketentuan OJK tersebut. Akhirnya, nominal uang yang harus dikembalikan oleh korban pinjol ilegal juga membludak dan sangat membebani kondisi keuangannya. Belum lagi jika terlambat melakukan pembayaran, nasabah diharuskan untuk membayar denda yang nominalnya juga sangat tidak manusiawi.

Baca Juga: Akses Pengunjung Masuk Tawangmangu Ditutup Sementara Pada Minggu

6. Jangan Pernah Melakukan Pengajuan Pinjaman Online pada Layanan Tak Terdaftar OJK



Pada dasarnya, menghindari jeratan pinjaman online ilegal tak begitu sulit untuk dilakukan. Pastikan untuk mengajukan pinjaman online pada layanan yang terdaftar di OJK saja agar seluruh kebijakan pada aktivitas kredit telah sesuai dengan regulasi yang berlaku. Untuk mengeceknya, Anda bisa melihat pengumuman terkait daftar fintech atau aplikasi pinjaman online yang resmi, terdaftar, dan mengantongi izin usaha di situs resmi OJK.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya