Waduh, 6,5 Juta Penduduk di Jateng Belum Jadi Peserta BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan berinovasi dengan menyediakan layanan secara online. Salah satunya melalui aplikasi Mobile JKN.

 Deputi Direksi BPJS Kesehatan Jateng DIY, Dwi Martiningsih (kedua dari kiri), memberikan paparan terkait kepesertaan JKN KIS di Jateng DIY di Ballroom Wujil Resort and Conventions, Kabupaten Semarang, Senin (20/9/2021). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

SOLOPOS.COM - Deputi Direksi BPJS Kesehatan Jateng DIY, Dwi Martiningsih (kedua dari kiri), memberikan paparan terkait kepesertaan JKN KIS di Jateng DIY di Ballroom Wujil Resort and Conventions, Kabupaten Semarang, Senin (20/9/2021). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, UNGARAN – Sekitar 6,5 juta penduduk di Jawa Tengah (Jateng) belum mendapat jaminan kesehatan dari negara. Hal itu dikarenakan mereka belum menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Deputi Direksi BPJS Kesehatan Jateng DIY, Dwi Martiningsih, mengatakan saat ini baru ada sekitar 30 juta penduduk di Jateng telah menjadi peserta JKN KIS. Padahal berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, jumlah penduduk di Jateng mencapai 36,5 juta jiwa.

Dengan demikian, capaian universal health coverage (UHC) di Jateng hingga saat ini baru mencapai 81,6%. Atau lebih rendah dari angka nasional yang mencapai 82%.

“Untuk Jateng cakupan wilayahnya memang luas. Ada 35 kabupaten/kota, tapi baru dua daerah yang capaian UHC di atas 95%. Yakni Kota Magelang dan Kota Semarang. Kita apresiasi dua wilayah itu,” ujar Dwi kepada wartawan di Wujil Resort and Conventions, Kabupaten Semarang, Senin (20/9/2021).

Baca juga: Ganjar Pranowo: Soal Capres Urusan Bu Mega

Sementara untuk wilayah DIY, Dwi mengaku sudah ada sekitar 3,3 juta penduduknya yang menjadi peserta JKN-KIS BPJS Kesehatan. Dengan kata lain, capaian UHC di wilayah tersebut berada di angka 92,23%. “Dari 5 daerah di Yogyakarta, capaian UHC yang sudah di atas 95% ada dua. Dua wilayah itu yakni Kabupaten Gunungkidul dan Kota Yogyakarta,” ungkapnya.

Dwi menambahkan secara global, jumlah peserta JKN KIS di wilayah Jateng dan DIY saat ini mencapai 33.771.019 orang. Atau sekitar 83% dari total penduduk di dua provinsi itu. Praktis masih ada sekitar 7.132.247 penduduk di Jateng dan DIY yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.

Dwi mengatakan saat ini pihaknya terus berupaya menambah jumlah peserta JKN KIS BPJS Kesehatan. Terlebih lagi, pemerintah telah menetapkan target pencapaian UHC 98% pada tahun 2024 nanti.

“Ini [capaian UHC 98%] itu harus kita kejar. Kita akan bekerja sama dengan berbagai stake holder guna memperluas cakupan peserta JKN KIS. Apalagi kita ditarget tahun 2024 peserta JKN harus sudah 98% dari total jumlah penduduk,” ujar Dwi.

Baca juga: 69 Orang Terkonfirmasi Covid-19, Klaster PTM di Jateng?

Online BPJS Kesehatan

Baca juga: Seleksi Bintara TNI AD Kodam IV Diponegoro Sisakan 238 Pendaftar

Sementara itu, selama masa pandemi Covid-19, jumlah peserta JKN KIS BPJS Kesehatan yang memanfaatkan layanan kunjungan maupun rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) mengalami penurunan.

Penurunan paling tajam terutama terlihat pada masa terjadinya lonjakan kasus Covid-19, yakni pada bulan Juli 2021. Kebanyakan dari peserta enggan menggunakan layanan kesehatan di rumah sakit. Atau fasilitas kesehatan secara langsung karena khawatir terpapar Covid-19.

Baca juga: Duh, Vaksinasi 4 Daerah di Jateng Ini Masih Lemot

Hal ini pun membuat BPJS Kesehatan berinovasi dengan menyediakan layanan secara online. Salah satunya melalui aplikasi Mobile JKN. Meski demikian, Dwi mengaku hingga saat ini masih banyak masyarakat di Jateng yang belum memanfaatkan aplikasi Mobile JKN.

Hal itu dilihat dari minimnya jumlah pengunduh aplikasi Mobile JKN di Jateng dan DIY. Yakni 2 juta orang, atau sekitar 6% dari total peserta.

“Padahal manfaat dari Mobile JKN sangat banyak. Peserta bisa melakukan konsultasi secara online di aplikasi itu. Mengurangi kontak langsung dengan tidak datang ke fasilitas kesehatan. Juga mengetahui jadwal praktik fasilitas kesehatan yang dituju,” ujar Dwi.

 


Berita Terkait

Berita Terkini

Walah! Tunggakan PBB di Semarang Capai Rp35 Miliar

Tunggakan pembayaran pajak bumi dan bangunan atau PBB tahun 2021 di Kota Semarang mencapai Rp35 miliar.

Heboh Banteng vs Celeng, Ganjar Tapak Tilas Sukarno di Ternate

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, berkunjung ke Kesultanan Ternate yang juga pernah dikunjungi Sukarno saat polemik banteng vs celeng tengah mencuat.

Selfie Membawa Maut, Dua Ibu Muda di Banyumas Tersambar Kereta

Selfie membawa maut dialami dua ibu muda di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang tersambar kereta saat asyik berswafoto di jalur kereta api.

Srumbung Gunung Buat Master Plan Menuju Desa Wisata Kreatif Perdamaian

Visual 3 dimensi master plan yang sudah final telah ditunjukkan kepada masyarakat Srumbung Gunung di acara soft opening Gazebo Kuliner Nusantara.

Ini Dia 4 Masjid di Semarang dengan Bangunan Unik

Masjid di Kota Semarang berjumlah ribuan dan beberapa di antaranya memiliki bentuk bangunan yang unik.

Lezatnya Tiwul Lava Merapi, Ada yang Meleleh

Kuliner tiwul lava merapi menjadi salah satu makanan unik yang patut dicoba saat berkunjung ke wilayah Magelang, Jawa Tengah.

Rujak Belut Khas Brebes, Lembut Legit Lazizzz, Mau Coba?

Rujak belut merupakan kuliner khas Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang lezat, gurih, dan sedap tiada tanding.

Diramalkan Kelep, Rumah Warga di Pesisir Semarang Ini Nyaris Amblas

Selain di Kabupaten Demak, wilayah di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa Tengah yang terancam tenggelam adalah Kota Semarang, khususnya daerah pesisir.

Dampak Rob, Rumah di Pesisir Pekalongan Kelep Permanen

Perumahan di dekat pantai kawasan Pekalongan sudah banyak yang tenggelam saat banjir rob datang dan bahkan ada yang sudah tenggelam permanen.

Polisi Temukan Bukti Baru Kasus Mayat Perempuan di Hutan Grobogan

Aparat Polres Grobogan, Jawa Tengah (Jateng) menemukan bukti baru dari kasus penemuan mayat perempuan dalam plastik di hutan.

Batik Pemalangan, Coraknya Unik, Pewarnanya Alami Hlo

Batik Pemalangan memiliki corak yang unik dan khas yang dipadukan dengan pewarna dari bahan-bahan alami.

Kakek di Demak Dipenjara Usai Bacok Pencuri, Ini Kata Pakar Hukum Undip

Mbah Minto, seorang kakek berusia 74 tahun yang bekerja sebagai penjaga kolam ikan di Kabupaten Demak dipenjara setelah gagalkan aksi pencuri.

Masa Kelam Goa Jepang Brebes Bikin Wisatawan Nangis Bombai

Goa Jepang ini juga sebagai bukti jika ada wisatawan Jepang yang berkunjung, mereka bisa mendengar informasi mengenai masa kelam zaman penjajahan jepang di Indonesia.

Wisata Lembah Nirwana, Terasa Seperti di Surga

Lembar Nirwana di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menawarkan pengalaman wisata yang seru serasa seperti di surga.

Gobyos! Cuaca Panas Ekstrem Melanda Jateng & Jogja

Cuaca panas ekstrem melanda wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di kawasan pesisir.